Target dan Pencapaian

Sumber

“Itu aku udah kirim target aku… mana yang punya kamu cepeeet,”  dia menagih balasan gue.
Malam ini nggak seperti biasanya, malam ini terasa dingin sekali, apalagi diluar sedang turun hujan. Tidak ada kegiatan yang gue lakukan selain duduk di depan monitor di ruang kerja rumah gue. Sesekali gue buka handphone untuk mengecek notification dan sekedar scroll recent update dari social media gue.

Sebuah buku tergeletak begitu saja di depan meja seakan merayu untuk dibuka, lalu gue buka dan terdapat didalam nya sebuah undangan yang gue dapat sore hari dari seorang sahabat gue yang akan melangsungkan pernikahan nya minggu depan. Gue foto undangan itu dan langsung gue send to the my group dan contact di bbm gue. Ada nama dia disana tepat di barisan chatting beberapa hari lalu. Gelang Kulit.

Selayaknya anak muda pecicilan foto undangan gue tadi menjadi senjata ampuh untuk memulai percakapan awal dan gue mulai basa basi, semua itu gue lakuin buat menjaga chatting ini agar tetap hangat dan nggak akan berakhir hanya sebagai “say hi doang” .

“manaaa cepeet..” ujarnya menagih kembali.

“Siap suster, ini” ujar gue singkat.

Memang kami sedang membicara kan target yang ingin dicapai dalam hidup kami masing-masing kedepannya. Gue memiliki sebuah catatan list apa saja yang harus gue lakuin selama gue hidup didunia ini, gue menyebutnya Target dan Pencapaian. Tanggal pembuatan catatan target ini yang sudah hampir satu tahun lebih usianya, memaksa gue untuk mulai membukanya dan membangun lagi hari ini. Entah apa kalo kelamaan dibiarkan mungkin akan lapuk dan terlupa dimakan usia.

Entahlah pencapaian setiap orang berbeda, begitupun gue dan dia.

“Ih kok ketawa… Apanya yang lucu??”

“iniloh.. hahaha.. Turunin berat badan jadi 45 kg?!” jawab gue sambil ngakak.

“oh itu, iya emang aku lagi progress :P .”

“hoooo” gue mengagguk percaya.

Banyak banget list yang ditulisnya, gue lihat ada 39 mimpi yang dia tulis semuanya terjajar dengan rapih percis seperti dia. Anggun.  Dalam listnya sesekali dia isi dengan sebuah catatan kecil yang sedikit bernada melow. Problem khas anak muda masa kini.

“Ternyata banyak mimpi kita yang sama ya?” Ujar gue

“Apa aja ?” lanjut dia

“Naik gunung misalnya,,” jawab gue meyakinkan

Setelah chat itu gue kirim foto sebuah celengan yang gue buat sengaja untuk tabungan mimpi-mimpi gue di umur mendatang. Dan mulai membahas hal-hal kecil yang menurut gue simpel sampai bertukar cerita masalah yang gue alamin dikantor.

Gue mulai cerita masalah yang gue alamin sekarang-sekarang dikantor, semoga ada jalan keluar menurut gue.

Dia cekatan dalam memberikan masukan kepada gue yang lagi kolaps masalah problem kantor yang gue alamin.

“Kebanyakan cerita di gue nih. So, how was your story? Ceritaa dong” Tanya gue kepadanya ketika beranjak dari cerita gue sebelumnya menuju layar handphone lagi.

Sebuah alarm dari jam tangan gue berbunyi. Menandakan chating ini yang sudah menyentuh tiga puluh menit.

“Aku sekarang fokus ingin ngecilin bb aku nih. Aku ingin sembuh…” ujarnya mengawali cerita.

This disease, make me stress. But, I have to optimist” dia mulai bercerita tentang penyakit yang sedang dialaminya selama ini.

Gue cuma membaca tiap kata yang dia kirimkan ke chatting ini dengan serius, tapi sejujurnya pikiran gue melayang entah kemana.

Dia adalah gadis paling spesial yang pernah gue temui. Cantik, baik dan spesial. Seolah ada tanda “Handle With Care” tertulis disetiap balasan ketikkan nya. Butuh orang-orang yang tulus yang bisa dekat untuk merawatnya.

Entah kenapa gue mulai menyukai obrolan ini. Obrolan yang diawali dari sebuah foto undangan. Seperti sebuah mimpi yang akan terwujud hanya dengan action.

Gue tau ada beberapa rahasia yang belum diceritakan kepada gue. Mungkin butuh waktu hingga akhirnya dia bisa bicara. Untuk berani membuka dan menurunkan “pada penjaganya”.

Perbedaan tempat antara ujung selatan Kabupaten Bandung dan ujung Timur Kota Bandung bukan masalah buat kami berdua. Dia rela mendengarkan setiap keluh kesah yang gue bawa dari kerjaan gue dan kuliah gue. Melawan rasa kantuknya hanya untuk tau bagaimana akhir dari cerita gue.

Orang lain menyebutnya sebagai perhatian. Perhatian yang buat gue terasa hangat dan menyenangkan. Dan itu spesial.

Beberapa balasan dari obrolan menyadarkan gue dari lamunan ini.

“Maaf ya jadi cerita gini, aku bosan memendamnya sendiri….” Dia mengambil jeda beberapa detik dari ketikkan nya “…aku takut orang yang sudah tau masalah ini,, mereka menjauh..”

“So, thank you for always support me bro!..”

Gue hanya membalas dengan kata-kata yang gue susun sedemikian rupa dengan harapan bisa terus membuatnya tetap berjuang melawan kesakitan yang dia alamin saat ini. Gue sempet menceritakan pengalaman teman gue yang penyuka olah raga, naik gunung dan sekarang dia lumpuh tapi tetap menjadi inspirasi buat gue. Semoga tiap balasan yang gue kirim bisa membuatnya sedikit terhibur dan tetap bersemangat melawan semua masalahnya saat ini.

Setiap stiker yang dia kirimkan ke gue seakan menjadi penjamin bahwa inilah orangnya.

Sempurna.

Gue langsung menoleh ke jam yang ada di dalam handphone. 21:54 .

“Eh udah malem lho,,,, tidur yuk.” kata dia mengingatkan

“Apaan sih, enam menit lagi lah.. tanggung pas haha.” gue pecicilan

“Yaudah deh,, okee aku tidur duluan ya gpp?

“Oke gapapa kok!”

“Yauda, aku tidur ya? Assallamuallaikum.. “
“Waalaikumsalam warohmatulloh hiwabarokatuh.”

Ceklis…

Dan tanda centang bersamaan dengan huruf D muncul dalam sebuah stiker yang gue kirim terakhir tadi. Pertanda dia sudah beranjak ke tempat tidurnya dan mulai menjauh dari handphone nya.

Satu jam lebih sedikit. Obrolan ringan sarat makna terasa menyenangkan yang berlalu tanpa terasa.

Hhhhhhhhhhhhhhh…

Gue menarik napas panjang. Diam sejenak dalam keheningan yang kamar ini ciptakan. Sesekali terdengar suara air hujan menetes di luar rumah. Mata gue masih menatap layar handphone itu, berharap gue bisa melihaat balasan yang baru muncul dari dia dan mengobrol lebih lama lagi.

Sambil mengetik postingan blog ini, gue merangkai kata demi kata untuk sebuah postingan baru. Postingan ini terbaca sangat sempurna ketika terdengar alunan ketikan keyboard berpadu dengan jajaran tulisan di layar monitor.

Dengan ujung mata gue melihat daftar mimpi gue di buku yang tergeletak diatas meja. Gue bersemangat.

Iya, harusnya gue lebih semangat lagi.

Tapi gue memang nggak bohong, malam ini terasa sangat syahdu. Entah kenapa.

Mungkin karena mimpi gue dan mimpi dia yang mempunyai banyak persamaan. Atau ada hal lain yang membuatnya istimewa. Seperti ada sesuatu yang membuatnya terasa lebih berarti. Sesuatu yang mungkin bernama perhatian dan rasa suka. Dari seorang gadis yang jaraknya puluhan kilometer dari gue sekarang.

Perhatian yang gue sadari mulai menyusup masuk bersama daftar target impian nya yang telah menyadarkan gue bahwa ada seseorang yang bermimpi sama seperti gue di luar sana. Dan kini dia hadir membuat gue tidak takut untuk mulai men-checklist daftar mimpi gue lagi. Tidak sendiri. Tapi bersamanya.

Kami berdua tau, kalau kami saling menyembunyikan perasaan, membuatnya seperti curhat di obrolan yang susah untuk diceritakan tetapi tidak sengaja terkirim. Sesimpel itu. Saling tebak dan bikin penasaran.

Gue, dia dan perasaan. Yang mungkin belum saatnya diutarakan. Sementara biarkanlah menyatu dalam sebuah daftar target dan pencapaian.

Rekomendasi Untuk Kamu × +

Langganan segera, jangan sampai tertinggal postingan dari Jejakumurku. Yang berlangganan semoga murah rejeki aamiin.

Rekomendasi Untuk Kamu × +

8 Responses to "Target dan Pencapaian"

  1. aku harus kuat, seperti kamu sang pendaki gunung!
    malam tadi, beautiful story and ....
    I can't explain it more hehe
    tetap sertakan aku dalam setiap do'amu :')
    aku janji akan berjuang untuk sehat lagi!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai mba :) Semangat ya hhe

      Delete
  2. Semangat terus buat gelang kulit nya bang !

    ReplyDelete
    Replies
    1. Itu orang nya ada di paling atas... hayoo pindahin komentarnya gih hahaha

      Delete
  3. dalem banget ini bang curhatannya :(

    ReplyDelete

Kemon komen dong biar makin rame. Biar berasa ada yang baca sih wkwk

nb : yang mau komentar harus punya akun gmail.