Seminar : Aku Antarkan Bahagia dari Balon Ini

Sumber : disini

Disinilah gue duduk sendiri kayak orang bego, megangin HP baru gue. Di acara seminar tentang kehidupan.

Dengan iming-iming akan mampu merubah hidup gue seratus delapan puluh derajat, gue datang kesini di sebuah Gedung yang berada di daerah Cikutra Bandung, atas dasar ajakan senior gue di kantor dulu.

Karena ga enak, gue akhirnya mengiyakan ajakan senior gue ini yang kebetulan bertugas menjadi MC di acara seminar ini.

Bingung mau ngapain, gue melihat ke segala sudut ruang tempat seminar akan berlangsung. Disana ada seorang lelaki dewasa berpeci, lagi diem. Niat SKSD gue muncul.
“Assallamuallaikum Pak.. Ikut seminar juga ya!?” tanya gue.
“Waalaikumsallam Wr. Wb. Iya dek..”
Berapa saat muncul senior gue dari belakang ikut nimbrung dalam percakapan.
“Eh kamu Jar. Udah akrab aja nih... Oiya Jar, kenalin ini pak Ustad Koes, beliau yang jadi pemateri seminar sekarang lho Jar..”
Gue kaget campur malu mengetahui kalau ternyata bapak yang gue ajak ngobrol barusan adalah pemateri seminarnya.
“Pak, kenalin juga ini Ginanjar temen kantor saya, dia di divisi desain pak..”
“Oh iya, salam kenal ya Jar. Semoga Alloh berikan ilmu di seminar hari ini...”
Gue berjabat tangan. Terlihat raut senyum hangat di wajahnya.

***
Nama gue Ginanjar, tapi gue lebih sering dipanggil Anjar. Umur gue 19 tahun. Gue lahir dan besar di kota metropolitan, orang bilang kota kembang. Bandung. Kalian tau kan Bandung? Tempatnya anak muda gaul dan keren berkumpul.

Orang bilang gue modis, style gue oke, gaya gue modern, orang selalu menyanjung gue.

Gue selalu jadi pusat perhatian.

Kesukaan gue adalah baju branded, sepatu casual original, gadget canggih terbaru wajib dimiliki, pokoknya gue harus selalu ikut gaya hidup modern jaman sekarang.

Semua barang itu gue dapet dari uang kerja gue, biasanya akhir bulan setelah gajian gue kuras abis semua uang gaji. Gue belanja dan nongkrong-nongkrong di mall elegan Kota Bandung. Itulah hobby gue.

Dalam dua hari uang gajian gue habisin semua tak bersisa. Yang penting gue happy.

Sisa hari selanjutnya, gue tetep hangout.

Targetnya orang tua gue, gue mintain mereka uang buat keperluan gue.

Kadang mereka ngutang buat gue, tapi gue gak peduli

Yang penting gue bisa nongkrong di club.

Gua mintain mereka satu-satu, ga peduli ikhlas atau ngga.

Kalo mereka ngasih nasehat gue banting pintu!

Ngga lupa juga, gue selalu ngambil uang secara sembunyi dari laci gerobak gorengan ayah gue.

Semua uang yang gue dapet selalu gue gunain buat nongkrong dan main ke club, sampai larut malam.

Dampaknya gue sering tertidur di tempat kerja siang hari.
“Jar! Bangun !! ini sudah ke lima kalinya kamu tidur di jam kerja!” Bos perempuan bawel gue ngebentak.
“Iya maaf bu, soalnya malam kemarin saya bantuin keluarga sampai larut” jawan gue cari alasan.
Dan dengan alasan begitu gue hampir selalu dimaklumi jika tertidur di tempat kerja.
“Okey saya paham kalau kamu membantu orang tuamu, jangan diulang ya!” kata bos gue
“i...iya bu maaf ya” jawab gue sederhana.

Dan begitulah setiap harinya kehidupan gue. Gaul, modis, kekinian tanpa tanggung jawab.
***
“Baik acara kita mulai saja..” suara senior gue yang akhirnya memulai acara seminar.
Dengan sedikit rasa malas gue beranjak ke bangku yang sudah disediakan buat gue, deket podium.

Acara dibuka seperti biasa dengan pembukaan yang alot dan monoton.

Setelah pembukaan selesai, senior gue menyerahkan acara kepada pembicara materi. Ustad Koes..

Disana, ustad berdiri dengan puluhan balon yang ia tarik oleh tangannya. Ia berjalan ke podium tampak agak kesusahan dengan adanya balon itu.

Agak aneh, melihat seorang pembicara seminar yang membawa balon di seminarnya. Gue sempet bingung.
Ini acara seminar atau ulang tahun anak kecil ingusan?

Kata-kata motivasi menjadi pembuka oleh ustad Koes, ada sekitar 50 peserta di ruang seminar waktu itu terbagi dua baris semua peserta laki-laki yang hadir di sesi kesatu ini. Kata panitia, seminar ustad Koes ini dibagi menjadi dua sesi setiap pelaksanaanya. Pagi untuk ikhwan dan sore untuk Akhwat.

Tiba-tiba ustad Koes berhenti berkata-kata.

Dan mulai memberikan balon kepada masing-masing peserta satu persatu.

Ustad meminta untuk masing-masing peserta menuliskan namanya di balon menggunakan spidol.

Semua balon yang sudah diberi nama masing-masing peserta dikumpulkan dan dimasukkan ke dalam ruang sebelah yang kosong, ustad dibantu senior gue memasukanya.

Acara mulai terlihat menarik pikir gue dengan cara yang ustad ini berikan.

Sekarang semua peserta diminta masuk kembali ke ruangan itu dan diminta untuk menemukan balon yang telah tertulis nama mereka masing-masing, dan diberi waktu hanya 5 menit.

Semua peserta terlihat pada posisi siap, menunggu pintu ruangan dibuka. Setelah dibuka, semua orang masuk berhambur masuk, panik mencari nama mereka, bertabrakan satu sama lain, mendorong dan berebut dengan  orang lain disekitarnya sehingga terjadi kekacauan.
“Stop..! Waktu habis” ustad berkata di depan peserta.

Waktu 5 menit sudah usai, tidak ada seorangpun yang bisa menemukan balon mereka sendiri.

Sekarang masing-masing diminta untuk secara acak mengambil sembarang balon dan memberikannya kepada orang yg namanya tertulis di atasnya.

Dan hanya dalam beberapa menit saja semua peserta punya balon mereka sendiri. Termasuk gue.

Akhirnya ustad Koes berkata lewat microphone nya.
"Kejadian yang baru terjadi ini mirip dan sering terjadi dalam kehidupan kita sehari-hari.
"Semua orang sibuk mencari kebahagiaan untuk diri sendiri."
Ya, ini mirip dengan kejadian tadi saat semua peserta mencari balon mereka sendiri, dan akhirnya banyak yang gagal.
"Mereka baru berhasil mendapatkannya ketika mereka memberikan kebahagiaan kepada orang lain."
Ini seperti saat gue memberikan balon kepada pemiliknya tadi.
“Berilah kebahagiaan kepada org lain, maka anda akan mendapatkan kebahagiaan anda sendiri...
 Bahagiakanlah orang lain, dan kebahagiaan itu akan mengalir kepada anda...”

Diakhir cerita ustad Koes memberikan petikan kesimpulannya.
“Kebahagiaan kita terletak pada saat kita berhasil membahagiakan orang lain.”
Dan itu kalimat terakhir yang ga bisa gue lupain sampai sekarang.
***

Sejak hari itu

Gue memutuskan menjauh dari gaya hidup gue yang seakan mencari kebahagiaan sendiri yang semu.

Gue mulai serius bekerja di tempat kerja, berkomitmen, bersosial dengan sesama karyawan dan senior gue sebagai tim.

Merangkak keluar dari gaya hidup seperti dulu.

Gajinya ngga nambah, tapi setidaknya sekarang bisa mencukupi.

Buat biaya hidup gue sehari-hari, menabung untuk mimpi gue.

Dan ikut sedikit meringankan beban orang tua, dirumah.

Memulai hidup yang lebih bahagia, dengan mensyukuri apa yang Alloh berikan.

Dan saat ini. Gue ingin segera memberikan "balon" itu, untuk mulai berbagi..

Berbagi kepada sesama, mulai membahagiakan orang lain dan...

Dua malaikat yang telah membesarkan gue.

“Every saint has a past every sinner has a future.”

------------------------------------------------------------------------------------------
"Orang tua adalah pintu surga paling tengah. Kalian bisa sia-siakan pintu itu, atau kalian bisa menjaganya. (HR. Ahmad 28276, Turmudzi 2022, Ibn Majah 3794, dan dihasankan Syuaib al-Arnauth)."

------------------------------------------------------------------------------------------
*Cerita diatas dibumbui fiktif dan motivasi dari pesan orang bijak, dengan latar yang gue alamin sendiri.

*Nama karakter disamarkan untuk alasan privasi.

* Gue tulis ulang, berdasarkan pesan motivasi dari alm. Ustad Doddy waktu itu ke gue.

Langganan segera, jangan sampai tertinggal postingan dari Jejakumurku. Yang berlangganan semoga murah rejeki aamiin.

2 Responses to "Seminar : Aku Antarkan Bahagia dari Balon Ini"

Kemon komen dong biar makin rame. Biar berasa ada yang baca sih wkwk

nb : yang mau komentar harus punya akun gmail.