Skip to main content

Agung Fauzi, Saudara 'Kembar'

Konten [Tampil]
Childhood Foto : Ist
Pernah nggak kalian kangen dengan seseorang yang kehadirannya dulu sangat dekat dengan kita. Biasanya dia adalah teman, sahabat, ataupun sodara.

Gue sekarang tengah mengalami itu.

Gue lagi kangen sama saudara “kembar” gue. Namanya Agung Fauzi.

Iya, dia cowok. Tapi bukan berarti gue homo karena lagi kangen cowok yak. Bhay.

Dia adalah sodara yang sangat deket dengan gue, saking deketnya, kita selalu disebut “kembar” sama semua keluarga.

Okay, mari sini gue flashback sedikit.

Februari, 1999..

Hari ini, hari pertama gue masuk sekolah taman kanak-kanak. Gue bersekolah di salah satu TK favorit di daerahh gue. Dimana yang sekolah disitu, kalo nggak anak rumahan baik-baik, pasti anak pinter. Gue adalah pengecualian. Anomali.

Yah, gue termasuk kedalam anak yang, umh.. biasa-biasa aja. Dibilang bego, ngga juga, dibilang pinter, itu mitos, dibilang ganteng itu baru gue mengangguk setuju.

Nah, waktu awal masuk kelas taman kanak-kanak ini dibagi menjadi dua kelas. Terdiri dari kelas A dan kelas B, konon kelas A itu kelas inti dan B adalah yang biasa. Dan secara ajaib, gue bisa masuk ke kelas A yaitu kelas inti ini.

Kelas inti ini isinya udah bisa gue duga, semuanya anak baik-baik dan pinter. Pengecualian bagi gue. #Teteup

You know, mulai dari yang pinter karena emang rajin, yang pinternya dari lahir, ampe yang jenius, kalo bahasa gaulnya Indigo. Tau kan? Nah kabar buruknya gue nggak termasuk kedalam kategori manapun tadi. Gue anaknya tengil, hitam, bau matahari yang hobi nguber layangan ampe sore, tapi tetep ganteng tanpa ingus.

Nah, Agung ini masuk ke tipe yang pertama. Dia orangnya rame, nggak norak, nggak pelit ngasih contekan tiap tahun nilainya pasti hampir selalu sempurna. Dan yang terakhir nggak ngeselin. Kaya gue.

Tanpa banyak laga, Agung menjadi bintang kelas, melaju paling wahid dikelas yang semua dipenuhi alien dan 1 orang ganteng ini.

Buat yang pengen tau, gue pernah dapet nilai 4, yak empat!, saat pertama kali pelajaran menghitung, gue nggak ngerti kenapa dari dulu gue anti banget sahabatan sama angka. Padahal giliran ngomongin duit pasti semangat.

Bapak dirumah sampe geleng-geleng kepala, dia bilang.
“Aa.. kok nilainya kursi kebalik gitu?! Makanya belajarnya rajin dong, jangan layangan terus!” tegur bapak, dengan ngerutin wajahnya.
Gue Cuma bisa mesem dengernya.

Agung? Nggak usah heran, nilai terbaik selalu didapatkan dia. Jenius!

Gue sempet mikir, dulu mungkin pada saat kita semua diciptakan, Alloh memilih beberapa diantara kita, menyentuh kita dikepala, dan bummmm, si jago Fisika, si jago Seni, si jago Matematika.

Jika kejadian itu memang nyata, gue yakin Agung adalah salah satu peserta yang hadir disana.

Lalu gue? Bolos lagi main layangan. Bhay!

Setiap hari setelah pulang sekolah dia dan gue selalu main di rumah gue, dia nggak pulang ke rumahnya langsung karena ayah dan ibunya yang sibuk jualan ayam dipasar sampe sore, Baru sore hari dia akan dijemput ke rumah gue sama orang tuanya.

Permainan yang paling sering kita mainkan adalah permainan kartu. Dia suka main kartu katanya karena selain main bisa belajar menghitung juga, (gila sempet-sempetnya belajar lagi main). Gue sempet mikir pasti jika si Agung nanti gedenya bakalan :

Ibu guru bertanya.
“Agung, pelajaran apa aja yang kamu kuasai?”

“Fisika, oke!”

“Kimia, gampang!”

“Elektro, geli ah!”

“Matematika, sarapan pagi tuh!”
“Bahasa Inggris? Udah kayak air kalee. MENGALIR!”
Ngeri bayangin Agung dewasa tumbuh. Songong seperti itu.

Dia paling nggak suka diajak main layangan diluar, lari-larian, pokoknya semua hal yang menyangkut fisik dia nggak suka. Iya, karena alesan kesehatannya jadi dia nggak suka. Jadi tiap siang sampe saat dia dijemput pulang, gue habisin waktu didalam rumah. Dan sore harinya sesudah dia pulang, gue lanjut main layangan di lapangan!

Dia adalah sodara gue, sodara yang lebih dari sekedar sodara.

Dialah yang ngajarin gue berhitung secara tidak langsung melalui sebuah permainan kartu.

Dialah yang selalu bercerita tentang cita-citanya. Dia cerita kalo pas udah gede nanti dia pengen sekolah dan kerja di Kota Bandung. Sekolah dengan biaya dari sendiri, nggak mau dari orang tua.

Mimpinya tinggi!

Sedangkan gue? Waktu itu cuman mikir, gimana caranya bisa cepet-cepet pergi ke lapangan buat main layangan.

Bener-bener tipe anak kecil yang jauh berbeda bagai langit dan bumi. Maaf maksudnya bagai langit ke tujuh dan dasar samudera.

Mikirnya lempeng amat gue waktu itu.

Persaudaraan ini berlangsung terus sampai ketika kelulusan dan wisuda TK. Hingga awal-awal memilih SD.

Disini Agung dan gue harus berpisah sekolah.

Agung yang memilih SD di dekat rumahnya, masih karena alasan kesehatannya. Sementara gue yang  memilih sekolah sedikit jauh dari rumah.

Disaat gue masih polos-polosnya, Agung kecil mulai menggambar dengan jelas masa depan yang cerah!

Tapi, Alloh ternyata berkendak lain.

Oktober 2000

Dini hari itu, gue dibangunkan paksa tengah malam oleh bapak. Dengan penglihatan yang masih kabur dan pendengaran yang masih belum maksimal karena masih ngantuk, gue mengumpulkan nyawa dan mencoba mendengar pembicaraan yang bapak dan mamah bicarakan, Seakan tidak percaya. Tak lama, kabar itu datang menampar gue yang masih bengong, gak percaya.

Menangis dan Haru.

Kabar duka datang dari RS Hasan Sadikin, tempat Agung dirawat.

Agung meninggal dunia di usia yang sangat muda. Agung pergi tanpa pamit terlebih dulu, bersama penyakit ganas menyerang sel-sel darah dalam sumsum tulang yang telah Agung derita selama ini.

Leukemia adalah nama penyakit yang gue ketahui waktu itu.

***

Beberapa minggu lalu, gue sempat datang ke makam Agung. Berjejer bersama beberapa makam anggota keluarga lain dimakam keluarga tersebut. Tulisan nisan nya menyebutkan tahun 2000.

Gue menghela nafas...

Sudah lama Agung pergi. Setelah ziarah, gue melangkah pergi dari sana.

***

Februari 2017, saat pengambilan kartu UAS di Kampus.

Disini gue berdiri, di depan front office pembayaran kampus 1, mengantri untuk melakukan pembayaran biaya kuliah. Udah memasuki mau semester ke dua gue bisa sekolah. Gue nggak nyangka, gue bisa kuliah di salah satu perguruan tinggi swasta yang kata orang “borjuis” di Kota Bandung. Dengan biaya dari hasil kerja gue sendiri.

Ntah bagaimana. Alloh memang bekerja dengan cara-Nya yang misterius.

Dalam hati,

Gue diem.

Seneng.

Gue bangga.

Lalu kemudian gue kembali terhenyak, kembali berpikir dalam hati.  

Ada yang aneh,

Diantara kebanggan gue, ada sejumput rasa sedih dihati gue. Gue rasa kalo ini sebenernya bukan jatah gue, tapi jatah orang-orang pemimpi yang gigih diluarsana. Salah satunya mungkin Agung.

Demi gue, Agung, dan mimpi-mimpinya.

Gue akan membuat hal ini menjadi pemacu semangat gue untuk terus berjuang. Survive and into to the wild world. Real life. People has gone, but isn't for dreams. Gue nggak tau apa yang akan terjadi kedepannya. Yang penting gue harus menikmati kehidupan ini dengan selalu bersyukur. Bersyukur masih bermimpi.

Mimpilah yang membuat manusia berpikir, mimpilah yang membuat perubahan besar suatu negara. Dan begitu pun dengan mimpi Agung.

Yang pasti, gue kangen.

Mendengar ceritanya, bermain kartu lagi, dan mulai dengerin soal cita-citanya.

Agung Fauzi.

Satu nama. Saudara yang gak akan pernah terlupa.
Agung Fauzi, kiri saat TK (1999), kanan dalam pengobatan (2000)
-----------------------------------------------------------
Disadur dari kisah nyata penulis dan gaya penulisan tirta.
-----------------------------------------------------------
Solat lebih penting daripada baca blog ini.
-----------------------------------------------------------
Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar
Tutup Komentar