Skip to main content

Kerja Part-time Anak Sekolah

Konten [Tampil]
Maksa kaan? bhay
Bekerja sebenarnya bukan hal yang baru buat gue. Keinginan dan dorongan untuk bisa mandiri telah ada sejak kecil. Mulai dengan peraturan tegas yang diterapkan orang tua dirumah, itu semua dilakukan demi gue agar lebih disiplin dan mandiri. Bekerja dan berdagang, dimulai dari dulu waktu gue sekolah SD pernah jualan makanan ringan buat temen-temen di sekolah. Gue mulai jualan saat jam belajar.

Sengaja, gue jajakan makanan pas jam belajar dimulai, karena gue tau jam segitu emang yang paling tepat, karena saat itulah cacing-cacing di perut temen gue bakalan pada minta amunisi makanan. Alhasil jajakan gue laku keras. Kemudian loncat saat SMP, gue juga sempet jualan petasan. Iya petasan, sebenernya nggak boleh dan  beresiko kalo diperjual belikan, makanya jangan ditiru. Jadi ceritanya petasan itu gue dapet dari bapak-bapak tentara yang udah nge-sweeping pedagang petasan nakal. Nah karena rumah gue tetanggaan dengan kantor bapak tentara itu, jadi sedikit hasil dari sitaannya tadi dikasih ke gue, “dimana ada gula, disitu ada semut”  kesempatan emas inilah yang membuat gue terjun ke sisi gelap haha. Kebiasaan nyari duit tambahan ini terbawa hingga SMA.

Dulu, Sebulan terakhir sebelum UAS, ada kesibukkan baru dalam hidup gue. Bekerja Part-time.

Kombinasi hobi main game gue dan datengnya tagihan dari sekolah semakin menuntut gue untuk mencari kran uang tambahan. Sebenernya bisa aja sih gue minta ke orang tua untuk melunasi itu, tapi berhubung deadline tagihan masih satu bulan lagi, gue mikir apa salahnya kalo nyoba nyari tambahan sendiri buat bayar? Baru kalo udah kepepet gue sodorin aja ke orang tua haha.

And well,

Gue nyari-nyari info kerja part-time di daerah deket rumah gue. Gue mulai tanya-tanya ke beberapa temen gue yang memang sudah kerja. Secara garis besar, ada beberapa jenis pekerjaan part-time. Ada yang nawarin jadi Operator Warnet, ada yang nawarin jadi Pelayan Cafe (makanan nya kakaaa...)

Melihat jenis-jenis pekerjaan kerjaan itu, gue awalnya menimbang-nimbang mana yang paling cocok buat gue.

Kerja di warnet kok aneh ya, semalaman duduk depan layar monitor ngelayanin kostumer, yang ada bete selancaran terus di dunia maya, jatoh-jatohnya buka situs dewasa. Dosa dong, apa kata ustad di masjid? Ini bahaya.

Kerja jadi pelayan cafe kok gak srek yah, gak srek yang pertama karena gue merasa gak punya tampang mumpuni untuk dapetin banyak tip dari pelanggan. Kedua karena cafe adalah bidang kuliner, sama dengan mata pencaharian bapak gue.

What. Bapak gue

Why not ask my father ?

Akhirnya gue memberanikan diri minta ijin untuk ikut terjun membantu pekerjaan bapak gue.

Eh begitu minta ijin buat bantuin, langsung nanya. “When can you start working?”

Engga deh becanda bapak bilang. “Mau kapan mulai bantu kerja?”

Buset, kaga ada proses interview-interview dan ngobrolin gaji nih?  (Ya enggak lah ini kan bapak gue sendiri.)
Ini tempat kerjaku, mana punyamu ?
Kerja di orang tua sendiri itu beda rasanya. Gue emang kerja di usaha nya keluarga, tapi bapak memperlakukan gue secara profesional sebagai pekerja, bukan sebagai anaknya, sama sekali gak ada perlakuan istimewa. Pada saat kerja gue adalah pekerja yang dimana status gue sebagai bawahannya, beda cerita kalo dirumah, tetap gue jadi anak terganteng nya dong. 

Kerja gue cukup simpel, gue menjadi pelayan sebuah gerobak tenda ayam goreng di pinggir jalan, gue hanya perlu menyambut pembeli dengan ramah sambil ngomong “from zero yes sir”. Yakali pegawai pom bensin.

Nah itulah tugas gue. Gue harus melayani pembeli sekaligus menggoreng, menyajikan ayam yang dibeli itu.

Untuk bisa menjadi pelayan, gue mendapatkan beberapa training yang diberikan langsung oleh bapak gue. Bukan seperti training umumnya yang diharuskan untuk gue mengisi induction dan essay  berlembar-lembar. Bapak cukup memberikan training hanya dengan cara “mari lihat, sini, begini caranya, coba lakukan...”  Sebuah proses yang menarik dilakukan untuk ini.

Bukan karena apa-apa, jualan di daerah pemerintah desa ada beberapa peraturan dan kewajiban yang harus ditaati setiap pedagang yang berjualan. Kalo pedagang tidak mematuhi atau bahkan melanggar bisa-bisa dicabut ijin dagangnya.

Iya, seserius itu.

Gue ngeri aja ngebayangin kalo bapak sudah tidak boleh berjualan lagi, yang ada keluarga kami akan  kesulitan ekonomi, sekolah gue dan adik-adik gue akan terlantar, adik gue stress terus salah pergaulan, dan lalu, ah sudahlah...  gue pribadi gak mau kalo itu terjadi.

Pedagang disini sudah terikat dalam peraturan desa, artinya setiap pedagang wajib mengikutinya, salah satu dari peraturan adalah mewajibkan untuk membayar sejumlah biaya retribusi permalam kepada desa. Uang akan diberikan para pedagang kepada petugas yang datang ke setiap gerobak. Dalam satu malam kurang lebih uang yang harus dikeluarkan sejumlah 8000 rupiah, yang terdiri dari 2000 untuk kebersihan, 3000 untuk keamanan dan 3000 untuk lain-lain.

Gue kerja sistem shift dengan bapak, dimulai pukul 6 sore sampai 10 malam, (kalo malam minggu atau malam libur, biasanya suka nyampe tutup, dini hari). Jadi sistem kerja nya mulai jualan jam 4 sore itu dilakukan oleh bapak kemudian digantikan gue jam 6 sore sampai 10 malam, baru setelah jam 10 malam sampai tutup bagian bapak.

Memang jumlah pembeli saat gue kerja berasa puncak-puncaknya. Gue gak ngerti apa memang jam segitu orang-orang pada kelaperan jadi semacam sudah teratur sebagai prime time orang-orang untuk borong dagangan gue. Gue beranggapan aja mungkin karena faktor penjualnya yang ganteng. Berdiri hampir 5 jam memang sangat susah dilakukan apalagi yang belum biasa seperti gue.

Bisa-bisa betis gue kondean.

Ah iya, untuk yang penasaran berapa upah gue sehari, yaitu 20-30 ribu, atau sekitar 5 ribu rupiah lebih sedikit perjamnya, tergantung ramenya pembeli. Upah yang cukup bagi seorang pelajar kelas 2 SMK. Kadang kalo lagi rame dan laku bapak suka ngasih gue semacam bonus gitu, uang yang didapat gue kumpulin buat beresin masalah sekolah.

Kurang dari satu bulan, kartu ujian udah ada ditangan, itu artinya gue udah gak punya masalah dengan bagian Tata Usaha dan Keuangan disekolah.

Kerjaan parti-time ini sungguh kampret dan sukses bikin gue ketagihan ngumpulin rejeki di pinggir jalan raya. Gue memutuskan untuk menandatangani kontrak kerja baru dengan ‘perusahaan’ yang bapak gue pimpin ini. terhitung enam bulan gue aktif bekerja part-time di ‘perusahaan’ itu, yang kemudiam harus gue akhiri diakhir bulan ke enam, karena harus melakukan sebuah kontrak tanda tangan baru. Sebuah kehormatan mendapatkan kesempatan dari sekolah untuk Praktek Kerja di Industri yang lebih besar dari ‘perusahaan’ sebelumnya.

Dan itu adalah sebuah perpisahan yang berat bagi gue.


“Pa, Adhan dapat tawaran kerja dari sekolah”

“Selagi ada kesempatan kejar, Tinggalkan saya” sambutnya sangat bijak.

Mendengar jawaban dan sebuah dorongan semangat.

“Terima kasih atas segalanya, Bapak”

Dan dia cuma terdiam sesaat, lalu tersenyum lebar.

Melihat senyuman itu, membuat cukup gue bahagia. 
*Bonussss*

Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar
Tutup Komentar