Sawarna, Surga Kecil di Ujung Banten

Welcome to paradise
Gue suka jalan-jalan, ke kota-kota baru yang belum pernah gue kunjungin sebelumnya, baik eksplor wisata daerahnya sendiri atau cuman sekedar lewat di kota itu. Pekerjaan impian gue adalah jadi pembawa acara wisata jalan-jalan di tv. Gimana gak mantap coba? Dibayar untuk ngomong dan jalan-jalan aja. Enak bener! Tapi gue sadar diri, sifat gue pribadi adalah pendiem-pendiem ganteng, Kalo dalam presentase tingkat kegantengan gue berada di paling bawah antara Chico Jericho dan Marshal Sastra tapi kebanyakan temen bilang gue lebih mirip Indro warkop sih. Iya gue tau, gak cocok buat jadi pembawa acara.

Dan weekend kali ini kota beruntung yang gue kunjungi adalah...jeng..jeng...

Banten.

Kali ini gue disana, gak akan bikin onar, gue disana mau trip-trip lucu gitu ke pesisir pantai. Berawal dari ajakan temen gue Heru, akhirnya gue kompakan mutusin buat ngabisin weekend holiday di laut.

Kalo kalian emang fans JejakUmurku garis keras. Pret. Fans apalah-apalah.

Kalo kalian emang sering banget baca JejakUmurku, pasti kalian ngeuh kalo setiap tulisan di rubrik weekend kebanyakan isinya tentang perjalanan tentang di ketinggian ribuan mdpl. Karena gue ini hidupnya penuh dengan drama, gak asik kalo gak beda. Kali ini gue akan mencari sesuatu yang lain dari biasanya. 0 mdpl.

Pantai Sawarna Banten.

Beranggota kan 12 orang berbeda watak, yang terdiri dari Gue sendiri adalah orang paling ganteng diantara sekitarnya. Mang Gungun satu-satunya orang yang pede ngaku mirip Marshal Sastra. Gagan seorang manusia setengah jadi. Bute penghobi abg pasar baru bandung. Adam gue gak tau jenis manusia dari planet apa ini dan pacarnya Trisna yang namanya kalo disingkat jadi mirip merk helm, mereka adalah pasangan terkonyol se-planet, seenggaknya planet mereka sendiri lah. Ada juga pasangan Ucok dan teteh Selena Gomez (gue gak hapal nama ceweknya bang Ucok) . Uje juga, bukan almarhum Ustad ya.

Berhubung perjalanan kali ini lebih tepat disebut touring, ada dua temen gue yang gak boleh terlewat dalam urusan touring. Abuy seorang nestapa klub motor gede, ditambah Heru sang ketua klub motor pojokan unyu-unyu. Dan satu lagi cewek centil pacarnya Abuy, Indri, sumpah Indri paling sok cantik diantara cewek lainya wkwk. Semua sibuk dengan drama hidupnya masing-masing.

Jumat siang, abis pulang jumatan gue siap-siap berangkat kesana. Oke, officially ini pertama kalinya gue ke Banten, dan gue bener-bener gak tau jalan kesana. Makanya gue ajak mang Gungun untuk ikut.

Perjalanan kali ini akan terasa sangat melelahkan. Dari rencana, nanti gue akan melewati beberapa kota besar mulai dari Bandung, Cimahi, Padalarang, daerah turunan Rajamandala terus masuk ke Kabupaten dan Kota Cianjur kemudian mulai ke daerah Sukabumi sampai ke daerah Pelabuhan Ratu.

Letak administratif Pantai Sawarna berada di daerah perbatasan Sukabumi dan Banten, berjarak sekitar 1-2 jam perjalanan darat dari pantai Pelabuhan Ratu, setelah melewati Pelabuhan Ratu motor akan dipacu untuk melewati trek aspal naik turun bergeliuk-liuk seperti goyangan dangdut yang aduhai untuk mencapai ujung Sukabumi dan awal Banten.

Setelah menghabiskan waktu kurang lebih hampir seharian di jalan karena terjebak macet di Rajamandala dan Sukabumi, banyak gue lihat dijalanan masyarakat yang memutuskan mengunjungi pantai dengan menggunakan mobil bak terbuka beratap terpal, menurut gue ini adalah cara yang kurang tepat, selain terlihat seperti tukang tahu bulat yang sedang kompoi juga memakan banyak resiko, gue yakin pasti bakal menghabiskan waktu dan tenaga hanya sekedar bermacet dan berpanas ria. Atau bahasa anak mudanya..

‘Tua di jalan’

Tapi kemudian gue sadari untuk lokasi sekece ini, kayaknya gue wajib buat nulis dan review pantai ini dalam sebuah artikel khusus ngebahas Pantai Sawarna.

Tanjung Layar menawan
“Mana pantainya ..?
Tanya gue ke mang Gungun,

“Permotor lima ribu mas...”

Sesampainya di sebuah jembatan yang hanya cukup untuk lewat satu arah saja, langsung ada bapak-bapak datang menghampiri, ya ampun, harganya masih terbilang murah. Dalam hati gue, tempat sekece ini Cuma lima ribu rupiah aja buat masuknya. Saat gue melihat jam dinding di tangan. Yakali, gede amat. Ternyata waktu udah jam 4 subuh, mantap! Gaperlu lama-lama langsung kami cari penginapan yang dekat daerah pantai.

Mata udah bontot sekali minta ditidurin, di - ti - du - rin . Aneh ya? Weka weka bodo amat! Lagipula dari tadi sejak perjalanan saking capeknya gue sambil boncengan bisa tidur haha. Penginapan di Pantai Sawarna masih terbilang normal. Dengan mengeluarkan biaya sewa antara 400 ribu sampai 600 ribu per malam kamu semua udah bisa menginap di sebuah penginapan pinggir pantai yang aweu aweu. Dengan double bed, kamar mandi di dalam dan dilengkapi dengan fasilitas TV dan AC penginapan ini terbilang cukup untuk dibagi-bagi dompet dua belas orang.


“Kamarnya dibelakang ya a..”
Seorang mba pelayan memberikan kunci kamar.

“Yah, kita dapet kamar dibelakang nih gengs!”
Gak asik bener kalo nginep di pantai gak kebagian view pantai nya. KZL.. ZBL..

... Tapi setibanya di area belakang

Begitu nyampe di teras, rahang gue langsung jatuh ke lantai. Ada sawah!

..Kok dipinggir laut ada sawah,
..Kok sawahnya luas banget, dan
..kok gue ganteng!?

Sawah di laut

Penginapan ini keren, gue baru tau kalo di daerah pantai bisa ada sawah, ini memberikan kesan tersendiri bagi gue, satu sisi kita bisa bermanja ria main air di pantai, satu lagi kita akan terbelai oleh angin khas pesawahan desa. Sawarna Mengagumkan!

Oiya, buat yang budget terbatas, ada puluhan homestay di rumah-rumah warga dan shelter yang bisa disewa atau kalo kamu semua berbakat dalam marketing bukan tidak mungkin kalo kamu akan dapet diskon dari warga kampung sini.

Kalo soal makanan, jangan cemas banyak kok makanan yang masih bersahabat di hati dan dompet. Karena Pantai Sawarna ini masih dikelola oleh masyarakat sekitar jadi jangan heran kalau banyak biaya tambahan berkedok ‘retribusi’ seiklasanya. Banyaknya pedagang yang seenak hati menaikan harga. Hindari juga menawar kacamata wekaweka.

Overall, warga disini ramah banget kepada para tamu. Catatan untuk kamu yang sedang butuh Vitamin Sea dan berencana melancong juga ke Sawarna, ini catatan untuk kamu;

Hindari musim liburan! Salah-salah bukanya sepi yang di dapat malah terksesan kayak pasar tumpah. Juga untuk jalan dan sarana gue rasa masih kurang, dimulai dari hanya ada satu jembatan untuk dilalui satu motor menjadi satu-satunya akses menuju pantai, ini menyebabkan penumpukan kendaraan dimana-mana. Rescue yang gue rasa masih kurang. Pengelolaan sampah masih berserakan, kalo ini tinggal bagaimana tingkat kesadaran pengunjung dan masyarakatnya. Gak tau karena apa, mungkin karena faktor kurang nya perhatian dari pemerintah terkait untuk mengelola objek wisata ini menjadi lebih maksimal atau karena banyaknya anak muda yang masih tertidur. Semoga kedepannya Sawarna makin baik. Sayonara Sawarna!

Selanjutnya biar foto aja yang cerita, ngetik nya capek bhay! haha.
Senja Sawarna

Pantai Surut
Potret Anak
Alone
The Gengs
***

Nah, bingung di Sawarna mau ngapain aja? Baca di postingan selanjutnya ya!

Seperti biasa,

#KeepWriting
#KeepSharing
#StayGanteng

Langganan segera, jangan sampai tertinggal postingan dari Jejakumurku. Yang berlangganan semoga murah rejeki aamiin.

4 Responses to "Sawarna, Surga Kecil di Ujung Banten"

  1. Sawarna oh Sawarna.. merindu banget nih main ke pantai ini bang gue.. Susah banget nemuin pantai ini, sampe harus nyasar dulu haha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Eh ada mba rere, iya mba Sawarna emang joss :D

      Nyasar mah samaan mba adan juga wkwk

      Delete
  2. Pen bangett kesini :g ajakin kek bang :p

    ReplyDelete

Kemon komen dong biar makin rame. Biar berasa ada yang baca sih wkwk

nb : yang mau komentar harus punya akun gmail.