Skip to main content

Kepiting Lada Hitam

Konten [Tampil]

Black Pepper Crab
“Kamu mau yang mana ?” Kata gue sambil nunjukin list menu Seafood pinggir jalan ini.

“Mahal-mahal ya?” Katanya sambil menutup wajahnya dengan buku menu. Hanya terlihat mata polosnya dari balik cadar yang digunakannya malam itu. Menggemaskan.

“Yauda sih, hanya kali ini kok. Inikan tepat 30 hari setelah kita menikah, gak usah dipikirin” gue meyakinkan.
Tidak berapa lama, 1 porsi yang berisi dua ekor kepiting goreng yang dipotong-potong dan dibungkus telah siap untuk dibawa pulang.

Dirumah, dimeja makan dengan menggunakan tangan kosong, gue mengambil potongan kepiting yang udah tersaji lengkap dengan tutut sebagai tambahan, dan tidak lupa ada nasi disana sebagai pelengkap untuk dimakan kami. Hanya berdua.

Rasa amis kepitingnya terasa hilang. Daging lembutnya menempel di lidah. Saus lada hitamnya yang sangat pedas menjadi penyempurna rasa. Delapan dari sepuluh untuk kepiting ini.

Suasana hening yang terdengar di komplek perumahan ini menjadi pengatur suasana kami. Kadang sesekali terdengar suara nyaring hasil kombinasi dari gesekan perpaduan sendok dengan piring yang dipakai untuk mengambil tutut. Tapi itu tidak mengganggu sedikitpun momen makan malam ini. Malam itu di Cinunuk, suasananya seperti sudah di setting sedemikian rupa.

Dan dia disana. Duduk manis di pinggir gue. Bercerita tentang kesibukkan skripsinya yang sebentar lagi deadline sidang, tema skripsi menjadi fokus ceritanya.  Kadang dia selingi dengan rasa menyesalnya udah pilih menu kepiting ini, dua hal yang jadi alasanya yaitu karena pedasnya dan... Harganya. Mukanya berbinar semangat menjelaskan semuanya saat kembali ke fokus bahasan. Tangannya aktif bergerak kesana-kemari sambil tetap bercerita.

Dia wanita yang mendampingi hidup gue.

Entah kenapa ada yang aneh yang gue rasakan tiap menatap wanita ini. Rasa cinta yang makin tumbuh dan makin meningkat sejak ikatan akad itu kami lakukan sebulan yang lalu.

Kadang gue mencuri pandangan nya ke arah mata yang sedari tadi lahap menyantap kepitingnya. Sesekali kedua mata kami bertemu dalam tatapan yang sama.

Ada jeda  sejenak ketika gue mengambil kembali potongan kepiting yang tersaji.
“Kenapa ngeliatin neng? Neng gembul ya? Maluuuu” tanya dia spontan ketika sadar gue sedang merhatiin dia.

“Engga kok...” gue menggelengkan kepala “...biarin aja biar gendut jadi makin lucu” jawab gue tengil.

“iih aa mah..!” balas dia yang kesel dikatain gendut.

“Gimana enak kepiting nya?” tanya gue mengalihkan perhatian.
“Heem.. padas banget, enak tapi mahaal, nggak mau beli lagi. Janji ini yang terakhir hehe” sambil ngangkat kelingking tangan nya pertanda keseriusan niatnya.

Gue kembali meliriknya, sambil berharap dia tidak menyadari gue tadi.

Ya allah serasa nggak percaya, sekarang impian dan semua doa-doa gue perlahan terkabul. Doa-doa yang dari dulu gue ambangkan diatas langit, sekarang telah diturunkan dalam wujud yang sempurna.

Dan dari luar rumah terdengar suara hujan yang mulai turun. Suasana jadi sangat sepi tetapi terasa sangat syahdu, potongan daging kepiting dan tutut sudah tinggal hitungan jari untuk mengakhiri pertemuan kami di meja makan ini.

Seketika suara gemercik air hujan diluar berhenti, tampaknya hujan diluar rumah sudah reda. Aneh kadang secepat itu hujan berlalu.

Mungkin hujan diluar datang hanya sebagai pertanda. Bahwa langit pun sedih karena harus ditinggalkan pergi satu Bidadarinya, turun dibawa sorang pria yang sejak lama mengetuk pintu-pintu langitnya. Dan mungkin sekarang langit telah ikhlas menyerahkan satu Bidadarinya kepada seorang pria yang tidak ia kenal.

***

Suapan terakhir dia berikan ke gue, suapan langsung dari tangan nya memasuki mulut gue, ketika gue meliriknya. Saat pandangan kami bersatu, ada rasa yang aneh di perut gue. Seperti mengaduk perlahan, rasa sempurna yang dipadukan dalam hidangan seafood ini.

Sesuatu yang lembut dan menyenangkan. Seperti daging kepiting yang terasa samar amisnya disebuah irisan daging yang lembut dari sebuah Kepiting Lada Hitam yang sederhana telah menyatu didalam perut gue.

Tunggu. Gue yakin ini bukan diperut.

Lebih jauh dari itu. Lebih dalam lagi

Rasa itu makin menjadi didalam sebuah ruang.

Ruang yang biasa orang sebut akhir sebuah rasa. Hati




Cileunyi, 29 Agustus 2017
-----------------------------------------------------------------


Mohon dimaafkan baru sempet update lagi wkwk

Seperti biasa,

Sholat jauh lebih penting daripada baca blog ini.

Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar
Tutup Komentar