#BalasanUntukCalonMamah


Gue dibesarkan di keluarga yang menekankan prinsipal mandiri ke tiap anaknya. Keluarga yang kokoh. Sebuah keluarga yang sangat menghormati tentang nilai-nilai kedisiplinan dan tidak cengeng.

Bapak gue mempunyai cara yang unik untuk menerapkan nilai-nilai kedisipilinan kepada anak-anaknya. Kadang dulu ketika anak-anak lain masih tertidur pulas di pagi hari, gue harus puas dengan cipratan air yang selalu bapak simbahkan ketika menjelang subuh. Benar-benar cara yang jenius. Dan gue selalu tahu ketika itu terjadi bahwa bapak ingin mengajarkan sesuatu kepada gue dengan caranya yang 'manja'.

Pun begitu, hal ini seakan menjadi sebuah kebiasaan di keluarga gue. Ketika gue beranjak dewasa gue lah yang menjadi eksekutor hal ini ke adik-adik gue. Gue bahagia banget karena lingkaran kebiasaan ini bisa gue teruskan ke generasi adik gue haha *ketawa setan
 
Adik gue seakan sudah terbiasa dengan situasi dimana ketika harus bangun jam 3, jam 4, jam 5 subuh bahkan saking terbiasanya, adik gue sering ketahuan tidur saat sujud di sholatnya. Jadi gue bisa sedikit lega jika suatu hari adik gue bakalan mengikuti kegiatan jurit malam yang biasa dilakukan sekolah di acara Latihan Kepemimpinan itu. Sudah terbiasa!

Hal ini sedikit banyak mempengaruhi karakter gue ketika beranjak dewasa.

Gue bukanlah tipikal yang rutin menghubungi keluarga, bapak, mamah, atau adik-adik gue tanpa sebab. Kalaupun menghubungi pasti karena emang ada yang benar-benar urgent dan kondisional sih kebanyakan. Nggak jauh seperti;

“Mah aa mau pulang, mamah pengen dibeliin apa? Tapi aa abis pulsa nih” tau kan maksudnya? 
“Aa....! tau gak, temen teteh disekolah bagus lho bajunya, lagi trend..” Fix minta baju baru. Emang ya kalau cewek kebanyakan kode. 
Atau, ketika gue menghubungi bapak; 
“Pak, aa ingin nikah...!?”
"......"

"..........."

"................."


Udah, gak ada kalimat balasan apapun ketika gue bicara itu.

Adem - Sunyi - Sepi – Garing – Dan – Sepertinya - Gue – Mau - Mulai – Garuk – Tanah - Arghhh......... 

Nggak ada balesan satupun.

Akhirnya setelah beberapa penjelasan yang gue berikan. Situasinya mulai terbalik. Life Happens.
 
Bapak intinya bilang bahwa bapak lagi memikirkan satu situasi yang pasti terjadi kepada anak-anak bapak semua. Dan bapak mulai sadar mungkin waktunya itu adalah sekarang.

Semua anak-anak yang bapak besarkan, satu persatu bakalan terbang untuk menjalani kehidupanya masing-masing. Dulu mungkin bapak yang selalu menyadarkan gue dari tidur yang pulas dengan air di tangannya. Dan sekarang gantian, gue yang menyadarkan bapak bahwa mungkin sekarang waktunya. Begitu bapak bilang.

Terlihat sekali penuh harap dan kasih sayang di setiap perkataan yang disampaikannya.

Pembicaraan itu mulai mengalir. Bapak bercerita dengan lincahnya, ketika pertama kali berhadapan dengan kakek untuk meminta izin buat meminang mamah. Nggak lupa cerita-cerita ketika persiapan mereka menikah, lelucon-lelucon yang biasa bapak ungkapan ketika dulu awal nikah dengan mamah tapi tetap nggak meninggalkan pesan inti yang ingin disampaikan bapak kepada gue. Bahwa menikah itu bukan hal yang sesimpel seperti cerita humor bapak tadi. Butuh persiapan yang memang sangat serius, dan itu adalah hal yang menantang bagi setiap lelaki. Seru!

Jujur bapak gue mendukung untuk keputusan gue kali ini, bahkan sampai gue diajarin semacam les buat menghadap calon mertua haha. Gilak. Gue bersemangat. Love You Dad!

Lalu kenapa gue semangat ingin #nikahmuda? Itu gue tulis disini.

Dan maafkan gue yang akhir-akhir ini jarang nulis, jujur gue lagi banyak-banyaknya melakukan persiapan untuk menyambut hal yang HQQ itu tiba. Bhay!

Mohon doanya yak!

#calonimamsoleh


Semoga secepatnya. Sumber : hipwee

Rekomendasi Untuk Kamu × +

Langganan segera, jangan sampai tertinggal postingan dari Jejakumurku. Yang berlangganan semoga murah rejeki aamiin.

Rekomendasi Untuk Kamu × +

0 Response to "#BalasanUntukCalonMamah"

Post a Comment

Kemon komen dong biar makin rame. Biar berasa ada yang baca sih wkwk

nb : yang mau komentar harus punya akun gmail.