Skip to main content

#CERPEN - Tuhan Bercanda di Dua Kawah

Konten [Tampil]
♫ Kita adalah sepasang sepatu,
selalu bersama tak bisa bersatu.
Kita... mati bagai tak berjiwa
bergerak karena kaki manusia.
Aku sang sepatu kanan,
kamu sang sepatu kiri, ♫
Tulus – Sepatu

MEMANG Lagu Tulus berjudul Sepatu yang sedang merajai top chart list di radio-radio Bandung. Hampir setiap sore lagu Tulus selalu diputar. Mau nggak mau lagu itu akhirnya berhasil mendoktrin otakku dan sukses menjadi lagu yang paling sering diputar di playlist handphone. Bukan hanya dikarenakan enak didengar, tapi lagu itu juga punya makna tersendiri buat aku.

Dia lebih dari sekedar temanku, dia pujaan hatiku. Entah mengapa sejak pertemuan pertama kali dengannya, seolah ada sebuah magnet yang berhasil menghipnotis perasaan ini. Perjalanan opentrip Kawah Putih gunung Patuha tiga bulan lalu lah yang berhasil mempertemukan kami berdua.

Perkenalan yang sangat lumrah dilakukan orang-orang ketika berpapasan dengan anggota opentrip lainnya yang akan barengan masuk Kawah Putih, dia orangnya supel.

    “Olive..” Dia mengulurkan tangannya sambil tersenyum mengajak berkenalan.

    “Andi..” Jawab ku sederhana, dengan rasa malu.

    “Salam kenal mas!” Timpalnya spontan.

    “Andi aja, biar makin akrab, nggak usah pakai Mas hehe” Ya ampun kaku banget sikapku waktu itu.

    “Up to you...”


sumber
  ***
Pembukaan acara opentrip yang dipimpin oleh penyelenggara berlangsung lancar. Perjalanan yang lumayan jauh memaksa punggung tangan ini menutup mulut dengan sedikit menguap. Rangkaian sambutan yang dilakukan oleh penyelenggara terasa membosankan sekali. Salah satu panitia bicara di depan dengan sedikit nada joke atau lelucon untuk menghibur peserta.

     “Nanti kalau sudah sampai dilokasi kawah, jangan lupa beli masker soalnya disana bau belerang nya nyengat sekali ke hidung, jadi masker itu wajib dimiliki. Tapi, jangan lupa bukan masker perawatan wajah.”

    “....”


Anehnya, joke ini tetap disambut tawa paksa oleh peserta yang ikut.

   “Ya, ampun garing banget.” Celetuknya refleks.

    Aku menoleh kearah Olive, “Iya, kayaknya semua ketawa karena sungkan sama bapak bapak itu.”

    “hahahaha, mungkin juga.” Olive tertawa renyah mendengar yang aku ucapkan tadi.
Sesudah dia tertawa obrolan pun berlanjut mulai dari asal mana, pekerjaan, dan apa yang sedang menjadi kesibukkanya saat ini. Ada hal aneh yang bisa aku rasakan dari percakapan ini. Ada rasa timbal balik yang muncul dari diskusi diskusi yang kami lakukan. Suatu reaksi tarik menarik dan tukar pendapat yang terjadi secara natural dan seimbang.

Dengan mata yang berbinar semangat, tangannya juga ikut bergerak menceritakan kegiatannya mengajar di gerejanya.

Cerita itu membuatku sedikit terhenyak. Ternyata kami berbeda

Kami memanggil tuhan dengan cara yang berbeda. Kebiasaanku untuk sholat Jumat seolah berbanding terbalik dengan kebiasaan Olive dihari Minggu.

Ada helaan nafas dalam hati waktu itu... Dan suara pengeras suara dari ketua rombongan menyadarkan bahwa kami telah tiba di tempat destinasi.

    “Wow indah sekali Ndi..” kata-kata dari bibirnya saat turun dari kendaraan pengangkut penumpang ontang-anting1 tepat di depan Kawah Putih.

    “Hal seperti inilah yang membuatku jatuh hati kepada alam dan ketinggian seperti ini Olive..” jawabku pada Olive.

    “Oiya...? Jadi kamu suka mendaki gunung Ndi?” Olive seperti penasaran.

    “Iya, aku sangat suka sekali kegiatan mendaki gunung, dan mencumbui tanah tanah tertinggi di tanah air ini.." Aku dengan nada rendah menjelaskan.

    “Wah.. Keren sumpah kamu Ndi. Lain kali ajak aku yah mendaki gunung... Kayaknya puncak nya gunung ini seru deh, nanti bisa lihat pemandangan Kawah Putih dari atas..” Dengan nada manja Olive tersenyum. Matanya indah dengan binaran memancar kesegala arah, seperti ada yang menonjok hatiku saat itu.

    “hahaha boleh, kalau ada waktu luang ingin sekali rasanya mengunjungi satu lagi kawah yang ada di gunung ini tepat berdampingan dengan Kawah Putih, namanya Kawah Saat... Kawah termisterius selama ini.” Aku mencoba memberitahu keinginanku untuk dapat mendaki gunung Patuha ini dilain waktu.

    “Owh.. Masih ada kawah lainnya ternyata ya disini?” Jawab Olive yang baru mengetahui ada dua kawah di gunung Patuha ini.

    “Heemp...” Aku timpal dengan anggukan dan sedikit tersenyum

    “Mau ke gunung manapun itu. Pokoknya ajak aku titik.... Haha... Eh, ayo sini fotoin aku disini keren view pasir putihnya..” Sedikit tarikan dari tangannya seakan mampu mengusir kedinginan yang Kawah Putih ciptakan ini.
Foto : BenyKrisdanto

Lirik lagu Sepatu mengalun pelan dalam pikiranku.

Ku senang bila diajak berlari kencang, tapi aku takut kamu kelelahan.
Ku tak masalah bila terkena hujan, tapi aku takut kamu kedinginan.

Dan tanpa aku sadari kini aku telah bermain dalam badai perasaan, matanya, sodoran tangannya, terus terulang dalam khayalanku. Kombinasi pasir putih dan air danau warna hijau tosca ke biruan menambah kesan glamour kawah ini, Kawah Putih sangat cantik. Seperti Olive.

Sesekali aku coba mencuri pandang kepada Olive, namun sepertinya Olive telah mengetahui ada hasrat tersirat yang sengaja aku isyaratkan secara non lisan. Dengan sedikit menyusun potongan-potongan logika yang tersisa, tubuh ini mencoba menebak apa yang sedang dia rasakan sekarang? Bagaimana perasaannya? Apakah Olive merasakan hal yang sama dengan yang aku rasakan?

Sesekali pandangan kami beradu tanpa sengaja. Olive langsung membuang mukanya ke arah lain. Dan aku selalu tahu, itu tandanya dia sedang malu.

***
Kini aku terjebak.

Berminggu-minggu sejak Kawah Putih, semuanya berlanjut. Sobekan-sobekan tiket bioskop, acara-acara musik, dan sekedar dinner malam minggu telah kami lewati bersama. Juga ratusan menit obrolan yang melayang di udara, dan ribuan chat semakin menumbuhkan rasa itu.

Hari-hari yang aku lewati kini berlangsung lebih menyenangkan. Ada rutinitas baru yang mulai aku nikmati, selain naik gunung.

Aku beruntung waktu itu mengikuti acara opentrip itu. Dan sepertinya ini adalah rasa yang aneh. Tapi setelah itu aku kembali tersadar.

Kita berbeda.

Bagian reff dari lagu Tulus terulang di lamunan kepalaku, mengalun pelan dan lembut.

Kita sadar ingin bersama, tapi tak bisa apa-apa.
Terasa lengkap bila kita berdua, terasa sedih bila kita di rak berbeba.
Di dekatmu, kotak bagai nirwana. Tapi saling sentuh pun kita tak berdaya

***

Malam itu aku sedikit dikejutkan denga beberapa baris chat dari Olive.

Tanpa perlu aku jelaskan dalam kalimat. Intinya adalah bagaimana menghadapi keluarganya yang sudah menyiapkan ‘pangeran berkuda’ untuknya. Dan Olive meminta saran kepadaku.

Aku tersadar dalam fase ini, bahwa mau bagaimana pun kami saling memberi perhatian. Semua itu akan terjadi kehampaan belaka. Dan berakhir dijurang yang dalam.

Sebuah dilema mendadak muncul di hati ini.

Menyarankan ‘Accept’ akan membuat hidupku seakan terjun kejurang.
Menyarankan ‘Refuse’ akan merubah diri ini menjadi hina lebih dari sebuah kotoran.

Hanya jawaban halus dan masuk akal yang waktu itu bisa terlontar dari mulut ini. Memintanya untuk mulai memikirkan tawaran keluarganya, dan mulai mengubur mimpi kami yang selama ini telah kami cita-citakan.

***

Terdengar bijak, yang jujur terasa seperti dipaksakan. Karena memang sebagian kecil dari hati ini sedang merasakan kecewa.

Pikiranpun mulai terbang melayang cepat beberapa minggu kebelakang, berakselerasi melawan lorong waktu melewati semua kenangan itu, lalu berhenti dan stak disebuah rekaman. Saat aku berjanji kepada Olive untuk mencapai sisi lain dari gunung Patuha ini. Kawah Saat.

Ya.. ini saatnya, aku ingin sekali mencapai puncak Patuha itu. Perjalanan kali ini hanya aku  seorang diri bersama tas kerir besar dan segala peralatannya, nggak ada Olive disini, berbeda dengan perkataan kami waktu itu. Hemm.. Perjalanan menyendiri seperti ini memang sangat ngetrend dikalangan barisan manusia terluka seperti aku saat ini. 
Sumber
Tuhan sepertinnya sedang bercanda. Mengetahui ada satu insan-Nya yang sedang berbahagia, lalu dia merubahnya begitu saja.

Kabar berikutnya aku dengar, dia memutuskan untuk memilih pasangan yang telah ditunjuk oleh keluarganya.
Dan dengan legawa, ini saatnya aku memutuskan untuk menjaga jarak. Mengurangi interaksi dengannya. Melangkah pergi dengan kenyataan yang mesti diterima.

Dan kali ini aku yakin tuhan sedang mengajarkan mahluk kecil ini tentang humor.

Tuhan bercanda.

Dia menjatuhkan hatiku kepada sebuah hati yang jelas-jelas berbeda.

Minggu ini adalah hari dimana Olive akan melangsungkan pernikahannya. Pasir lembut Kawah Putih lah yang akan menjadi saksinya. Cinta mereka bersemi di Kawah Putih. Dan aku nggak menyangka tempat secantik Kawah Putih bisa menjadi tempat yang sangat kelam bagiku disini, ditempat hening ini.
Sumber
 ***

Hhhhhhh.... Aku tarik nafas dalam dan mulai menaikkan resleting jaket gunungku lebih atas.. suasana hening yang diciptakan oleh kepungan tebingan Kawah Saat yang seakan membentuk sumur raksasa telah membisukan keramaian dunia, dan disini mulutku berhasil terbungkam tak berkata, tetapi tidak dengan pikiranku. Patuha nggak pernah se-khidmat ini.

Ada jeda disana, aku baru sadar langkah kaki ini telah menuntun ketempat sunyi ini, dan disini ditempat  semesta kirana bersemayam, sebuah nirwana. Tuhan ingin memeluk seorang insannya lebih dekat, lebih dari pelukan ibu dan anak, tuhan memelukku seraya membisikan. “Aku tau mana yang terbaik untukmu.”

***

Aku memutuskan untuk naik ke Puncak Patuha,

Dua ribu tiga ratus delapan puluh enam meter diatas permukaan laut aku berdiri disini, dipuncak tertinggi Gunung Patuha sebagai pembatas curam dua sisi kawah, Kawah Putih dengan keindahan yang dipenuhi tipuannya dan Kawah Saat dengan segala keheningannya yang memelukku. Sebuah keabadian dalam sekat-sekat yang sengaja tuhan ciptakan. Sebuah keindahan tentang bagaimana cara anak manusia belajar “Merelakan dan Mengiklaskan.”

Terdengar lagu tulus yang keluar dari speaker handphone didalam tenda memasuki bagian akhir. Lirik lagu Sepatu yang menjadi penutup. 

“Cinta memang banyak bentuknya, mungkin tak semua... bisa bersatu.”
 
Sumber
TAMAT
***

Seperti biasa,
#KeepWrite
#KeepShare
#StayGanteng

Ah iya, ada yang baru.
Sholat jauh lebih penting daripada membaca blog ini.

------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Update  :  Tulisan ini telah diikutsertakan dalam lomba Cerpen komunitas Kawah Sastra Ciwidey. Alhamdulillah cerpen ini keluar menjadi Juara Favorit. Silahkan Baca di Blog Kawah Sastra

Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar
Tutup Komentar