Skip to main content

Doa Aneh dari Seorang Anak

Konten [Tampil]
Gue kadang kangen menjadi anak kecil lagi.

Masa dimana kehidupan tampak berjalan lebih nikmat dan lucu. Waktu gue kecil dulu, gue sempet memiliki sebuah doa yang aneh. Doa yang kalo gue pikirin sekarang sebagai orang dewasa, terlihat sangat rancu dan bodoh.

Doa gue waktu dulu adalah : “Supaya kucing peliharaan gue namanya Felix, gak jadi pembunuh“.

Dari sekian banyak doa yang bisa gue minta kepada Alloh seperti :
1.    Jadikan gue pintar dan ranking di kelas supaya diberi hadiah playstation sama orang tua
2.    Berikan kesehatan untuk gue dan keluarga
3.    Berikan gue ketabahan karena dikaruniai cobaan berupa wajah tampan ini.

Gue malah meminta supaya kucing gue gak jadi seekor kriminal. Superb!

Awal cerita doa yang aneh muncul ke permukaan sebenernya biasa saja.

Keluarga gue memang ramah dengan binatang, ini dibuktikan kebanyakan dari paman gue yang berprofesi sebagai peternak. Gue dulu memiliki dua ekor ikan louhan yang bernama Naomi dan Tipu Muslihat. Naomi adalah jenis ikan laouhan yang gue beli sendiri dari hasil mecahin tabungan ayam dengan harga yang cukup fantastis untuk anak seumuran sekolah dasar dan sementara Tipu Muslihat adalah seekor ikan yang emhh... diberikan oleh ayah dulu, kata ayah ini jenis louhan lokal, tapi semakin besar ikan tumbuh ada keanehan yang terjadi bukan jenong khas louhan yang muncul melainkan warna sisik yang berkilau bagaikan lampu disko pinggir jalan, dan gue sadar ini adalah jenis ikan golsom, begitulah dia mendapatkan nama legendaris itu, Tipu Muslihat.

Selain dua ekor ikan itu gue juga suka memelihara kucing. Bukan, ini bukan kucing garong yang terkenal sama ke menoran dandan nya.  Ini kucing kampung biasa seperti Muezza kucing peliharaannya nabi itu.

Dulu, ayah sering kedatangan banyak kucing ke rumah, bukan karena ayah gue seorang dokter hewan atau yang lainya, karena ayah gue adalah seorang pedagang ayam goreng. Dari sekian banyak kucing ada satu anak kucing yang selalu mengeong dan tinggal di teras depan gue. Ini menarik perhatian gue.

*Miaaw*
Entah apa tujuan anak kucing ini mengeong. Mungkin hanya sekedar ingin lebih dekat dengan gue, atau mungkin si kucing udah mencium aroma ke artisan gue, secara gue kan ganteng. Gue sadar tulisan barusan adalah khayalan semata. Oke gue artikan inilah saatnya gue untuk memelihara seekor kucing.

Jadi ketika anak kecil lainnya bermain dengan playstation dan sega nya, gue bermain dengan... kucing.

Tapi apapun alasannya yang membuat gue memelihara anak kucing ini, berhubung keturunan keluarga gue banyak yang menjadi peternak gue rasa itu cukup untuk menjadi bekal gue dalam memelihara kucing ini yang kemudian gue kasih nama Felix, sesuai dengan tokoh yang lagi rame di televisi waktu itu. Tokoh kartun, bukan ustad Felix!

Anak kucing berwarna abu itu akan gue pelihara dengan penuh cinta kasih dari mulai seumur bayi kucing sampai besar dan mendapat ijasah sarjana.

Kalau perlu, akan gue ajarin bagaimana membuat CV biar bisa dapat kerja dan bantu-bantu keuangan keluarga.

Kadang kalo lagi senggang dan lumayan boring gue suka ajak main si kucing beberapa permainan yang menurut gue bisa sedikit memancing saraf motorik si kucing, seperti, main cakar-cakar kayu, main kejar-kejaran (ini serius kucing bisa diajak main gini) atau di ajak main kejar tangkap bola.

Memang visi gue adalah menjadikan Felix sebagai kucing sirkus yang siap membantu keuangan keluarga.

Trik untuk memelihara anak kucing ini sebeneranya tidak terlalu repot dan cukup mudah, cukup dengan memberi mereka daging setiap pagi, terkadang gue suka jadi maling dadakan untuk mengambil sedikit beberapa potongan daging yang siap ayah jual, ini semua demi anak kucing itu, cukup berikan sekali dalam sehari biar irit dan sedikit mengurangi resiko diteriakin maling sama ayah sendiri. Sisanya, biarkan kucing mencari makanan sendiri ke luar rumah dengan mengorek-ngorek sisa makanan orang.

Iya, kucing gue emang agak gelandangan.

Kadang, setelah gue makan siang dengan lalapan, gue akan mengambil sisa nasi di piring gue dan akan memberikannya kepada kucing itu. Termasuk  sayuran yang menjadi lalapan gue tadi. Sesekali gue memang mengjarkan prinsip vegetarian terhadap kucing gue.

Dan kadang, ketika kucing gue flu (serius kucing juga bisa bersin) gue akan membelikan balsem geliga dan menempelkan nya sedikit ke hidung si kucing dan kebagian pantatnya. Balsem ternyata ampuh buat ngobatin flu si kucing (gue gak habis pikir kenapa dulu gue lakuin itu) tidak menimbulkan efek samping yang berarti terhadap kucing gue, paling dia akan gosok-gosokin bagian pantatnya ke tembok bata aja kok, gue gak tanggung jawab soal yang ini.

Terimakasih balsem geliga. Panasnya Berganda!

Ketulusan gue dalam memelihara kucing gue sedikit terganggu melihat tumbuh kembangnya kucing lainnya disekitar rumah. Ini serius, jangan dianggap lelucon!

Disaat gue membesarkan kucing gue yang sedang menginjak masa puber itu dengan cinta kasih, gue sedikit khawatir melihat kucing lainya di sekitar rumah.

Kucing diluar rumah gue terlihat sedikit berantakan dan beringas. Entah karena sering berantem dengan kucing lain atau karena tidak terurus sehingga menyebabkan salah pergaulan. Kadang kucing-kucing diluar sering sekali terlibat pekelahian antar kucing sehingga menyebabkan adanya korban, dan yang paling sering waktu dulu kucing diluar sering membawa seekor tikus yang telah dimangsa oleh kucing itu. Kucing diluar rumah gue terlihat sangat beringas dan kriminal berbeda dengan Felix.

Tatapan matanya tajam melambangkan kemarahan dan penuh dendam, bulunya ada yang sebagian botak karena terlalu sering berkelahi. Mungkin dikalangan kucing, inilah yang disebut preman kucing.

Karena status kucing gue bukan kucing rumahan yang selalu stay dirumah, kadang Felix sering keluar untuk mencari makan dan berkumpul bersama kucing luar lainnya unutk mencari makan.

Gue, sebagai pemilik kucing yang baik-baik, takut kalau kucing diluar sana memberikan pengaruh yang buruk buat kucing gue, mulai dari merokok hingga nongkrong-nongkrong gak jelas.

Kalau mereka sebatas merokok gue sebagai pemilik kucing tidak terlalu khawatir tapi kalau sampai mabuk-mabukan apalagi sampai menjadi kriminal sepertinya gue akan hopeless banget terhadap kucing gue. bukan apa-apa. Jaman sekarang kalau sudah salah pergaulan dampaknya akan susah untuk masa depan bro!

Intinya, gue berharap semoga kucing gue bisa dikasih tau baik-baik tentang bahayanya pergaulan bebas dan tingkat rawannya kriminalitas.

Karena kucing gue tumbuh ditempat yang sama, makan ditempat dan daerah yang sama dengan kucing-kucing berandalan lainnya, gue benar-benar khawatir terhadap pergaulannya. Karena sudah pasrah dan tidak tau harus berbuat apa, maka tidak ada cara lain selain berdoa.

Doa aneh yang sederhana.

Sebuah doa yang bodoh yang gue lafalkan setiap kali selesai shalat wajib.

“Ya Alloh, berikanlah umur yang panjang untuk Felix dan jauhkanlah dari pergaulan buruk seperti kucing lainnya, Aamiin”

Doa ini gue ucapkan setiap selesai shalat wajib dan pulang ngaji yang berlangsung lumayan lama. Ini serius.

Pada akhirnya memang Felix tidak pernah menjadi kucing yang berandal seperti apa yang gue khawatirkan, namun dengan seiring dewasa nya kucing gue Felix memutuskan untuk pergi dari rumah mencari jalannya sendiri untuk cerita dimasa depannya nanti.

Gue sempat simpati mengingat saat terakhir Felix kecil mengeong di depan rumah meminta potongan daging yang gue dapat dari hasil nyuri di meja makan, kini pergi. Tak mengapa ini namanya proses, semua pasti sama akan seperti ini lenyap tak bersisa.

***

Sekarang gue sudah mulai dewasa, usia 21 adalah usia transisi dimana gue akan tau jatidiri gue sebenarnya. Dan setiap gue melihat kucing di jalanan, kadang berpikir bagaimana kucing ini hidup? Apakah ada yang memberi nya sisa lalapan sayur? Apakah ada seorang anak kecil yang mendoakan hal yang sama seperti apa yang gue lakukan dulu?

Doa aneh sederhana dari seorang anak yang polos tidak tau apa-apa.

Mungkin dulu Felix tumbuh sempurna bukan karena bagaimana cara dia di pelihara atau karena dikasih balsem di pantatnya. Tapi benar-benar karena pengaruh doa yang tulus gue panjatkan.

Kini entah berapa lama gue tidak pernah berdoa seperti itu lagi. Doa yang tulus dari seseorang yang mencintai sesuatu melebihi dirinya.

Doa yang dilakukan sepenuh hati tanpa pengharapan sesuatu apapun, tanpa pamrih dan tanpa menuntut balasan. Bukan doa yang egois untuk diri sendiri, yang selama ini biasa gue lakukan.

Kali ini, ingin rasanya gue untuk kembali berdoa. Doa aneh yang sederhana, yang pernah gue lakukan belasan tahun lalu.

Karena hanya itulah yang bisa gue lakukan saat ini. Meminta  kepada tuhan gue. Tuhan yang sama yang dulu pernah disebutkan anak kecil itu.

“Ya Alloh, aku tau kau maha pembolak balik hati, Teguhkanlah hatinya agar selalu berada di koridor agama Mu, perteballah imannya dengan semangat jihad di jalanMu, Semoga ia adalah bidadari dalam lauhul mahfuz saya.”

Iya, itu doa gue saat ini.

Untuk seseorang disana. Doa dari seorang anak polos yang telah beranjak dewasa.

Untuk Gelang Kulit, yang entah siapa itu.

***

Terimakasih untuk mas Tirta atas inspirasi nya, mohon maaf jika banyak kesamaan dalam penulisanya, sesungguhnya saya masih belajar.
Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar
Tutup Komentar