Cinta Aep


Namaku Aep.

Aku asli dari Bandung. Sekarang sudah hampir tiga tahun lulus SMK, aku langsung bekerja. Membantu keluarga agar adik-adik perempuanku bisa makan dan tetap bisa sekolah. Sebagai calon pengganti bapak yang berpenghasilan tidak seberapa sebagai pedagang, aku memang harus belajar menjadi tulang punggung keluarga.

Tapi semuanya kulakukan tanpa beban, karena kurasa inilah tugas anak pertama. Sejak satu tahun lalu aku kerja disini, disebuah perusahaan pengadaan property di daerah Cileunyi, sebagai seorang grafis desainer. Tanti, istri teman kantorku dulu di Arcamanik mengajak kerja disini.

Ijasah SMK ku bisa sedikit membantu untuk kerja disini, ijasah ini aku sangat banggakan.

Bulan - bulan pertama aku bekerja disini kuhabiskan dengan mengeluh. Perjalanan dari rumahku di daerah Bandung Selatan sampai Cileunyi di Bandung Timur dengan jarak yang hampir 65 kilo dari rumahku lah yang menjadi musuh satu-satunya, jarak yang cukup untuk bisa meng jamak sholat. Butuh sekitar tiga bulan untuk membiasakan tubuh ini nyaman dengan jarak perjalanan sejauh itu.

Akhirnya tanda tangan kontrak disetujui, dengan upah 100.000 rupiah per hari, aku rasa cukup untuk bertahan dan sedikit membantu finansial keluarga di rumah.

“Ep, Tolong besok, ikut saya kontrol pembangunan gedung yang di daerah Dago ya” Mang Zenal, managerku menginstruksikan tugas untuk ke lapangan dengannya.

Dia adalah atasanku langsung, diatasnya ada direktur, dan diatasnya lagi CEO pabrik bernama pak Tanto.
Bangunan ini katanya akan menjadi sebuah gedung hotel. Dari mandornya sih katanya Green Hotel, aku sebenarnya tidak tau apa bedanya dengan hotel-hotel lainnya.

Hotel ini juga aneh, bangunan setengah jadi ini gak punya lantai empat dan tiga belas. Namanya diganti jadi lantai 3A dan 12A. Aku juga tidak mengerti kenapa. Katanya owner hotel ini adalah orang Cina, mereka tidak suka angka-angka itu. Bawa sial kata mereka.

“Ep, makan siang dulu.” Teriak mang Zenal.

Hari ini adalah hari senin, dan kebetulan aku sedang melaksanakan puasa sunat, jadi dengan halus aku menolak ajakan mang Zenal untuk makan siang.

Udara yang cukup panas menyengat siang ini seakan membuat malas untuk keluar dari lokasi proyek. Aku memutuskan untuk lebih baik meneduh dan membaca sebuah buku. Buku ini bercerita tentang sejarah islam yang aku dapat dari pinjaman Santi, dia adalah sahabatku di daerah Cibiru.

Buku itu sedikit kusam terkena debu dari angin yang membawa debu di lokasi proyek. Tapi dengan kondisi ini tidak mengurangi minat ku dalam membacanya, terlebih lagi aku mulai menyukai membaca bukuya.




***

“Ayo sini masuk Ep” kata Santi memerintahkan.

Aku langsung duduk di bangku luar rumahnya.

“Ini bukunya ada dua, dibaca ya” sambil menyodorkan dua buah buku yang akan aku pinjam.

“Iya makasih ya” jawabku.

Obrolan kecil bersahaja mengalir dari kami berdua diakhiri dengan kumandang adzan magrib di senja hari.

“Eh iya udah magrib, sebentar ya aku bawa makanan dulu” santi pergi kedalam rumah, lalu membawa kebab yang ia masak sendiri katanya.

“Ayo dimakan”

Aku melemparkan senyuman kepada Santi. Dan dia membalasnya dengan sederhana. Manis sekali.
Aku hanya bisa membuang muka ke bawah. Aku malu, aku tidak puasa saat itu.


***


“Ep, serius amat baca buku apa itu?” kata mang Zenal.

“Oia? Enggak ah biasa aja kok” Aku jawab.

“Jangan jangan buku tentang cinta ya”

Aku hanya tersenyum simpul sambil mendengarkan ucapan mang Zenal. Sejak terakhir aku meminjam buku ini, memang sebuah bayangan terus menghadiri benakku. Kerjaan untukku memang sedang banyak. Jadi belum sempat aku kembalikan buku ini kepemiliknya.

“Kayaknya kamu lagi jatuh cinta ya Ep?” lanjut mang Zenal, sambil tersenyum.

“hahaha” aku hanya bias tertawa sambil menggengam buku ditangan. Dengan pekerjaan seperti ini dan upah yang aku terima, sepertinya aku belum siap jatuh cinta.

Tapi entah mengapa, muncul sejumpul rasa bahagia mengingatnya.



***






Malam ini aku tiduran di kamar. Pintu kamar sengaja aku buka agar udara bias mengalir ke dalam. Dari tadi aku tidak bisa melepaskan tangan dari telepon genggam ini.

Belasan kali chat antara aku dan Santi telah terjadi. Dan perlahan tapi pasti, ada sebuah rasa datang menghampiri.

Sebuah rasa nyaman dan diawali oleh sajian kebab.


***

“Ep, tolong naik ke lantai 3A, cek cat dinding yang tadi dikerjakan tukang ya. Coba kamu lihat dulu. Biar besok bisa kita lanjutin” Ujar mang Zenal kepadaku. Hari menjelang sore. Semua orang tampak sudah bersiap pulang.

Aku menghentikan pekerjaanku sekarang dan langsung menuju ke atas. Tangga beton setengah jadi yang menjadi satu-satunya cara aku naik ke atas.

Entah kenapa, banyak yang sudah pekerja tidak suka berlama-lama di lantai ini. Lantai 4 yang kini bernama lantai 3A. kata temenku, angka 4 dalam bahasa Cina itu berarti sial. Karena pengucapannya yang mirip kata shi yang berarti kematian.

Entahlah, aku tidak terlalu percaya.

Aku segera berlalu melihat dinding di tiang penyangga sebelah kanan. Campuran catnya terlihat hampir mongering dan cukup kuat dimataku. Tinggal kulaporkan ke mang Zenal dan kami akan melanjutkan pekerjaan ini esok hari.

Dari atas lantai empat ini, aku bisa melihat pemandangan Bandung sore yang jarang aku nikmati.
Di bawah, aku bisa melihat puluhan pekerja lain berbaris sambil mengisi kartu absen untuk pulang. Aku tampaknya menjadi orang terakhir yang berada di bangunan ini.

Aku melangkah kepinggir untuk memperjelas penglihatanku. Dari bangunan yang belum berdinding, aku kini bisa melihat lebih jelas. Matahari kemerahan yang mulai turun di barat bercampur dengan lampu ekor ribuan kendaraan di jembatan Pasupati mengular panjang.

Cantik. Seperti Santi.

Dan entah darimana, suara kucing terdengar di telingaku.

Aku membalikkan badan berusaha mencari sumbernya. Di belakangku, terdapat kucing hitam yang menatap tajam. Entah bagaimana dia bisa masuk kesini.

Dan tiba-tiba tiupan angin menggoyangkan rak yang berisi pipa besi yang ada di lantai ini. Beberapa diantaranya terjatuh dan menimbulkan suara yang nyaring sekali. Refleks, aku berusaha mundur ke belakang dan ternyata hanya udara yang aku rasakan.

Badanku oleng kehilangan keseimbangan. Tanganku berusaha menggapai apapun yang bisa aku raih agar menjadi pegangan.

Tapi semuanya sia-sia. Hanya udara yang aku rasakan.

Tubuhku seolah melayang. Berakselerasi cepat ke bawah ditarik oleh grafitasi. Dan mungkin ini lah saatnya. Bayangan ibu dan adik-adikku dirumah melintas cepat. Kenangan bersama mereka terasa hangat dan tiba-tiba menguap.

Berganti dengan sebuah senyum yang terasa familiar.

Sebuah senyum hangat yang beberapa  hari ini sering terpikir. Wajah menyenangkan yang datang sambil membawa sebuah benda yang membuatku tersenyum seketika.

Santi dan Buku dengan sebuah piring berisi kebab nya.

Lalu semuanya mendadak gelap.


note : cerita ini hanya fiktif dan dikutip kebanyakan dari blog mas tirta (romeogadungan)

Rekomendasi Untuk Kamu × +

Langganan segera, jangan sampai tertinggal postingan dari Jejakumurku. Yang berlangganan semoga murah rejeki aamiin.

Rekomendasi Untuk Kamu × +

0 Response to "Cinta Aep"

Post a Comment

Kemon komen dong biar makin rame. Biar berasa ada yang baca sih wkwk

nb : yang mau komentar harus punya akun gmail.