Skip to main content

Jelajah Gunung Patuha - Tebing Sunan Ibu (Bag.3)

Konten [Tampil]

Tanpa pikir lagi saya minta izin dan pamit ke penjaga itu utuk langsung melanjutkan perjalan ke puncak Sunan Ibu, saya berangkat dari pos ketiga pada pukul 09.10 medan yang dilalui untuk menuju ke Tebing Sunan Ibu mulai terjal dan vertikal koral diganti dengan tanah lumut, saya memasuki kawasan hutan suasana teduh dengan rimbun nya pepohonan hutan yang dominan dengan kayu putih. Jalanan teduh namun sangat ekstra memangkas stamina saya apalagi saya harus menggendong adik saya yang berusia 6 tahun, tak jarang saya harus lewati pohon tua yang tumbang dan memaksa saya untuk "ngolongkong" Sunda-red dan memanjat karena medan memiliki tingkat kemiringan 80 derajat.

Lebih dari 1jam saya telah menembus hutan dari pos ketiga tadi disini udara mulai susah bau belerang sedikit diganti dengan hembusan angin yang cukup kuat, ada yang ganjil dari perjalanan saya kali ini secara logika seharusnya jarak dari pos ketiga sampai ke pos keempat atau puncak hanya sekitar 20 menit hanya saja medan yang ekstrim. Tapi jika dipikirkan saya telah mengitari kawasan ini sudah lebih dari 1jam lamanya berada dalam kitaran hutan nya. Perasaan cemas dan waswas sempat saya rasakan besar kemungkinan saya tersesat.

Menurut pengalaman pemandu saya jalan yang kita lalui ini benar dan dia pun bukan baru sekali menuju puncak ini, tetapi baru merasakan dimainkan seperti ini. Saya terdiam dan selintas terpikirkan perkataan seseorang yang tadi ditemui di pos tiga tentang kita harus meminta izin terlebih dahulu, mungkin saya salah menafsirkan yang dimaksud dengan minta izin itu, bukan minta izin ke orang itu tapi meminta izin ke Sunan Ibu itu sendiri. Dengan penuh keyakinan saya berdoa kepada Allah SWT agar saya senantiasa dilindungi selama perjalanan dan meminta keselamatan.
 
Dengan Penuh keyakinan saya mantapkan hati untuk sampai di puncak tertinggi kedua di Gunung Patuha ini perjalanan pun saya lanjutkan kembali, aneh tapi nyata sepanjang perjalanan saya mendengar banyak sekali suara ayam padahal kalau dipikir tidak mungkin ada orang yang memelihara ayam di tengah hutan, memang mendengar cerita dari masyarakat kalau kita lagi "kawenehan" beruntung sunda-red kita bisa melihat, mendengar hewan sepeerti domba lukutan, munding laya, dan ayam hutan. Kita bisa mendengar dan bahkan melihat hewan itu semua tidak untuk kita tangkap atau konsumsi.
Setelah hampir 20 menit alhamdulilah puncak Tebing Sunan Ibu rupanya telah berada dekat dengan ditandakanya banyak pepohonan yang tumbuh tidak memiliki daun dan dahan yang berwarna hitam khas pegunungan, saya beserta adik dan seorang pemandu akhirnya tiba di Puncak tertinggi kedua di Gunung Patuha, suasana di atas puncak memang sungguh menakjubkan untung dipandang mata betapa tidak kita bisa melihat pemandangan Kawah Putih dari atas yang biasanya hanya dapat dirasakan dari satu tempat, menoleh ke lain arah terlihat lah sebuah gunung lainya yang biasa disebut dengan Gunung Mayit konon disana banyak berkeliaran domba lukutan yang masyarakat sebut itu.

Lumayan cukup membuat berdebar hehe, tapi jangan salah dibagian akhir akan ada cerita lebih seru lagi loh. Langsung klik aja Bagian terakhir nya disini.
Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar
Tutup Komentar